Tips A Fuadi: Menulis Dari Dalam Hati (Lihat Video)

A Fuadi

A Fuadi (ig a.fuadi)

Ahmad Fuadi terkenal ketika novel pertamanya “Negeri 5 Menara” memecahkan rekor penjualan penerbit Gramedia Pustaka Utama. Seperti diberitakan Antaranews, penulis yang memiliki nama pena A. Fuadi tersebut kemudian membuat novel “Ranah 3 Warna” dan “Rantau 1 Muara”. Kini ia tengah mempromosikan novel terbarunya yang berjudul “Anak Rantau”.

Fuadi berbagai tips bagi Anda yang ingin memulai untuk menulis. Untuk mulai menulis, Fuadi mengatakan seseorang harus menemukan tujuan dari penulisan. “Saya percaya menulis itu dari hati, jadi kita bertanya dulu “why?” “Kenapa?” itu bertanyanya ke dalam, kita itu nulis buat apa sih,” kata dia.

Kemudian, kita harus tentukan tema tulisan. Tema tulisan, menurut Fuadi, tidak harus sesuai dengan profesi atau latar belakang pendidikan. “Tapi yang benar-benar selama ini menggetarkan hati kita.,” ujarnya.

“Kalau ketemu temanya yang enggak membuat kita capek ngomonginnya, coba tuliskan,” lanjut dia.

Selanjutnya, bagaimana menulis cerita, menurut Fuadi, bisa berproses. Banyaklah melakjukan riset. “Kalau saya, melalui perjalanan dengan belajar, membaca, ikut workshop tapi yang lebih dari itu cara pola kita mendekati cerita. Lakukanlah riset sepenuh hati,” kata Fuadi.

“Riset itu yang membuat tulisan itu punya otot, kalau cerita dari kepala kita saja itu hanya cerita saja, tapi kalau risetnya kuat dia akan punya struktur yang kuat,” sambung dia.

Yang terpenting lagi adalah mulailah menulis dari sekarang. Fuadi mengatakan disiplin merupakan kunci untuk menulis. “Kapan nulisnya? Nulisnya jangan kapan-kapan mulai hari ini,” ujar Fuadi.

A Fuadi, 43 tahun memulai pendidikan menengahnya di KMI Pondok Modern Darussalam Gontor Ponorogo dan lulus pada tahun 1992. Kemudian melanjutkan kuliah Hubungan Internasional di Universitas Padjadjaran, setelah lulus menjadi wartawan Tempo. Kelas jurnalistik pertamanya dijalani dalam tugas-tugas reportasenya di bawah bimbingan para wartawan senior Tempo.

Tahun 1998, dia mendapat beasiswa Fulbright untuk kuliah S2 di School of Media and Public Affairs, George Washington University. Merantau ke Washington DC bersama Yayi, istrinya—yang juga wartawan Tempo-adalah mimpi masa kecilnya yang menjadi kenyataan.

happy wheels

Share this post.

PinIt