Tips Wawancara untuk Menulis Feature

Berikut ini adalah sebuah contoh laporan dari reporter di sebuah media terkenal yang berusaha membuat tulisan berjenis feature. Reporter mewawancarai pengungsi korban lumpur Sidoarjo yang datang ke Jakarta karena ingin menuntut pembayaran ganti rugi.

Hasil tulisannya:

Arya Yudha menceritakan kehidupan beberapa warga korban lumpur di pengungsian di Sidoarjo. Arya, warga Perumahan Tanggulangin Anggun Sejahtera (Perumtas) datang ke Jakarta untuk menuntut pembayaran ganti rugi. Ia menuturkan keluarganya tak bisa menikmati hidup sejak semburan lumpur melenyapkan rumahnya.

Ia tunjukkan video dalam telepon genggam bagaimana kondisi rumahnya yang hanya tinggal atap. Pria yang bekerja di PT. Sidomuncul ini mengaku tak dapat bekerja dengan baik karena selalu memikirkan keluarga. “Kalau bekerja pikiran selalu campur aduk. Kadang kita cepat marah. Untungnya atasan mau mengerti masalah saya,” akunya. Oleh karena itu pria tegap ini memutuskan tidak bekerja sementara waktu sejak 5 April lalu.

Ia juga mengaku miris dengan kondisi dua buah hatinya. Kedua anaknya berusia tujuh dan lima tahun tidak lagi mendapatkan pendidikan sebagaimana mestinya. “Hati saya ingin menangis bila melihat anak-anak di pengungsian. Sekolah sudah tidak lagi jadi perhatian. Pokoknya semenjak ada lumpur ini semua hal berantakan,” katanya lirih.

Reporter berusaha mengorek informasi yang mendalam, tetapi bisa lebih dalam dan menarik lagi jika mau berusaha lagi. Bagaimanakah tips wawancara yang mendalam untuk feature? Jika wawancara dilakukan mendalam, wartawan bisa menulis feature dengan baik.

  1. Pertama-tama pastikan wawancara dalam keadaan rileks. Karena dengan situasi tenang sumber berita akan bicara dengan bebas, sehingga banyak informasi yang keluar. Caranya: jangan gunakan tape recorder. Penggunaan alat perekam akan menyebabkan sumber berita mendadak bersifat formal dan takut salah bicara. Karena itu reporter cukup mengandalkan daya ingat dan buku catatan.
  2. Bersikaplah empati, dengan cara menghayati perasaan sumber berita. Caranya lontarkan pertanyaan yang simpatik. Misalnya, ketika korban sedang berbicara tentang rumahnya yang tenggelam lumpur, reporter bisa melontarkan pertanyaan; “Jadi apa yang tersisa, Pak?” Atau,”Lalu anak-anak Bapak, sekolahnya bagaimana?” dst
  3. Tapi jangan terlalu cepat menanyakan yang pribadi. Sebuah wawancara diperlukan kesabaran tinggi, sampai sumber terlena dan mempercayai reporter sepenuhnya. Ibaratnya MU mengalahkan Chelsea kan penuh kesabaran he he. Pas lengah gol, deh. Jadi tanyakan yang umum dulu, seperti: “Sampai di Jakarta kapan, Pak? Jangan langsung bertanya; “Bapak tidak ganti pakian sudah berapa hari?”
  4. Supaya rileks jangan suka menyela pembicaraan sumber. Ingat ini wawancara untuk feature yang butuh kesabaran. Jika seorang sumber bercerita hal-hal di luar keinginan kita inginkan, ya biarkan dulu sampai dia agak bosan sendiri. Tapi tentu jangan terlalu lama, supaya reporter tidak BeTe. Misalnya, kalau mendadak si sumber berbicara tentang resufle menteri, ya ikuti sejenak. Jangan dipotong dengan pernyataan; “Tolong Pak, saya buru-buru. Yang gituan jangan dibicarakan di sini.” Kalau reporter bilang seperti itu, sumber klakep diam.
  5. Dalam wawancara feature, reporter harus mau bersabar dengan mengikuti gaya sumber. Meskipun dia ngomong ngalor ngidul, kendali wawancara tetap pada reporter.
  6. Seorang wartawan harus tahu informasi apa yang diinginkan dari sumber. Dalam prakteknya, reporter tak harus mengikuti daftar pertanyaan yang ada di buku catatan. Jadi tanyakan pada saat-saat yang tepat. Jika dia tiba-tiba sumber bicara tentang keluarga: serbulah dengan pertanyaan jumlah anak, istri dll. Jadi tidak harus dipertanyakan dengan sesi khusus soal profil sumber atau hal-hal yang pribadi.
  7. Pokok informasi yang biasanya menjadi incaran dalam sebuah feature adalah kisah kehidupan yang dramatis, pernyataan yang menyentuh, cerita lucu, dan kisah unik lain.
  8. Begitulah tips menulis berita feature. Jangan lupa wawancara dengan sabar.
happy wheels

Share this post.

PinIt

terima kasih atas komentar Anda