The Last Key Segera Diputar di Indonesia

The Last Key

The Last Key

Tanpa diduga film Insidious: The Last Key berada pada peringkat kedua, di bawah Jumanji dan di atas The Last Jedi di Amerika.

The Last Key baru tayang di Indonesia sebagai midnight show pada Sabtu (6/1/2018). Penayangan secara luas baru dimulai pada Rabu (10/1/2018). Karya sutradara Adam Robitel ini mendapat banyak sorotan ada yang positif ada yang negatif.

Rotten Tomatoes mengulas The Last Key punya nilai rata-rata 4,9 dari 10 poin. Dari 62 ulasan hanya 17 kritikus yang memberi nilai positif pada film keempat waralaba Insidious ini.

Sementara dari Metacritic, angka metascore The Last Key juga 49 dari 100, sama persis dengan Rotten. Sebagian besar kritikus, 16 dari 21 orang, menilai film ini biasa saja. Tiga memberi nilai positif, dua sisanya negatif.

Dalam konsensus kritiknya, Rotten menulis, “Insidious: The Last Key kembali menawarkan kesempatan pada bintang Lin Shaye untuk memimpin, namun usahanya tidak cukup untuk menyelamatkan sekuel yang tidak orisinal.”

Alonso Duralde dari The Wrap menyebut bahwa The Last Key sebetulnya tidak menakutkan, faktor penyelamatnya adalah sang aktris utama.

Seperti tiga film Insidious sebelumnya, The Last Key masih berkutat pada karakter paranormal-psikolog Elise Rainier yang diperankan Shaye. Kini ia harus menginvestigasi sebuah rumah hantu di daerah Five Keys. Rumah itu ternyata adalah tempat tinggal Elise saat masih kecil.

The Last Key juga berfungsi sebagai semacam prekuel untuk Insidious pertama dengan kembali pada 1953 ketika Elise masih kecil dan berkomunikasi dengan hantu-hantu lokal.

“Penggemar berat genre horor tak akan menemukan banyak hal menakutkan dalam Insidious: The Last Key, bahkan tidak ada suara gesekan biola yang menyebalkan seperti biasanya, tapi sebagai media untuk menonton hasil kerja Lin Shaye, film ini lebih dari cukup,” tulis Duralde. Ia memberi nilai tertinggi pada The Last Key di Metacritic, 70 dari 100 poin untuk film tersebut.

Pemberi nilai terendah adalah Henry Stewart dari Slant Magazine dengan nilai 25 dari 100. FIlm ini ia sebut memuakkan. Produser James Wan kehilangan sentuhannya.

Sutradara Adam Robitel disebut Stewart masih menggunakan gaya Wan yang kerap menahan ketegangan menggunakan adegan yang nyaris tanpa suara, kemudian meninggikan intensitas ketegangan dengan menunda-nunda klimaks adegan sehingga penonton akan kebingungan kapan kira-kira makhluk seram akan muncul.

“Tapi Robitel kerap menggunakan teknik kaget-kagetan (jump scares) dan desain makhluk yang klise, dalam hal ini Key Face (diperankan Javier Botet), hantu bergaya Guillermo del Toro dan memiliki jari tangan berupa kunci, yang maksudnya sih, menyeramkan.”

Richard Roeper dari Chicago Sun-Times menyatakan bahwa The Last Key sangat biasa. “Sutradara Adam Robitel tahu bagaimana menakut-nakuti penonton secara klasik, dengan penampakan tiba-tiba diiringi musik yang menghentak, yang tentu saja sudah digunakan beribu-ribu kali dalam ratusan film,” sindir Roeper.

Film Insidious yang paling kecil pendapatan globalnya adalah film pertama yang dirilis pada 2011 dengan raupan US $97 juta. Sampai saat ini, The Last Key baru memperoleh US $51,3 juta. Jika akhirnya film ini tidak melewati pendapatan film pertama, bisa jadi The Last Key benar-benar jadi kunci terakhir seri Insidious.

Sumber:duniaku

happy wheels

Share this post.

PinIt